TUM's Weekly Roundup: 9 November 2018

Apa kabar, urban Mama dan Papa sekeluarga? Bagaimana aktivitas yang dijalani seminggu ini, semoga semuanya berjalan lancar ya.

Kalau Urban mama mengikuti akun instagram @the_urbanmama, selama seminggu ini banyak followers The Urban Mama yang membagikan informasi seputar survei biaya sekolah anak. Informasi yang dibagikan pun beragam, dari biaya Kelompok Bermain, Taman Kanak-Kanak (TK), hingga informasi biaya Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengh Pertama (SMP). Menghitung seluruh biaya yang harus disiapkan untuk pendidikan anak memang bikin panas-dingin, apalagi melihat besaran angkanya yang tiap tahun semakin bertambah karena efek inflasi. Namun perlu disadari bahwa ketika anak dilahirkan ke dunia, tidak berarti kewajiban kita sebagai orangtua cukup sampai membesarkannya, memastikannya sehat, memberinya makan, rumah, serta perlindungan. Memberikan pendidikan terbaik untuk anak adalah salah satu kewajiban yang harus orangtua tunaikan, karena pendidikan adalah modal hidup yang tak kalah pentingnya untuk bekal karakter anak agar mereka tumbuh menjadi manusia-manusia yang sehat dan kuat lahir-batin.

Dengan banyaknya informasi mengenai survei biaya sekolah, bagaimana caranya agar orangtua dapat memilih sekolah untuk anak dan menyiapkan biaya pendidikan anak secara bijak, tepat, dan managable? Apalagi sudah bukan rahasia umum bahwa uang sekolah anak dari tahun ke tahun besarannya selalu naik. Nah selama seminggu ini, The Urban Mama membagikan beberapa tulisan yang mengulas tips-tips menyiapkan dana pendidikan dan memilih sekolah untuk anak. Dimulai dengan tulisan Mari Kita lawan Inflasi Pendidikan yang dibagikan oleh TUMExpert financial planner Fitriavi Noeriman. Dalam seri pertama tulisannya, mbak Fitriani membeberkan beberapa fakta mengenai biaya sekolah di Indonesia yang tinggi dimana sekolah negeri pun sudah mahal, dana pendidikan dari pemerintah yang tidak transparan, dan banyak hal lainnya. Sebenarnya fakta bahwa biaya pendidikan di Indonesia sangat tinggi sudah tidak bisa dipungkiri karena efek dari inflasi pendidikan yang semakin melambung. Reaksi dan komentar beberapa orangtua sehubungan dengan naiknya biaya pendidikan di Indonesia ini pun beragam, seperti ada yang sudah menyiapkan tabungan pendidikan jauh-jauh hari sejak anak masih dalam kandungan, membeli asuransi pendidikan dan asuransi unitlink, memilih untuk cukup punya simpanan emas, mengalokasikan warisan untuk biaya pendidikan anak, berencana untuk memasukkan anak ke sekolah negeri saja karena konon lebih murah, dan ada juga yang yakin tak usah sibuk pusing menyiapkan dana pendidikan karena rejeki anak sudah ada yang mengatur dan pada saatnya tiba, pasti akan ada.

Dalam tulisan kedua dari seri artikel Mari Kita Lawan Inflasi Pendidikan, Fitriavi Noeriman memberikan penjelasan yang detil mengenai reaksi beberapa orangtua yang disebutkannya dalam tulisan pertama. Betulkah simpanan dalam bentuk emas sudah yang paling bagus untuk dana pendidikan anak? Bagaimana dengan investasi dalam bentuk reksadana, asuransi pendidikan, produk tabungan pendidikan, properti, serta program unitlink, produk investasi mana saja yang tepat dipakai untuk menyiapkan dana pendidikan anak? Lalu apakah alokasi warisan untuk biaya pendidikan adalah langkah yang bijak dalam menyiapkan dana pendidikan anak, sama bijaknya seperti percaya bahwa rejeki anak sudah ada yang mengaturnya sehingga tak perlu pusing-pusing menyiapkan dana pendidikan? Silakan simak penjelasan mbak Fitriavi dalam artikel Mari Kita Lawan Inflasi Pendidikan (2).

Yang tak kalah pentingnya dalam menyiapkan dana pendidikan anak adalah orangtua juga harus pandai-pandai memilih sekolah untuk anak. Dalam artikel Memilih Sekolah untuk Anak, TUMExpert Fifi Suri menjelaskan bahwa kenyataanya bagi sebagian orangtua, memilih sekolah adalah hal yang sederhana: cukup mendaftarkan anak ke sekolah yang letaknya dekat dengan rumah, selain agar tidak repot mungkin juga karena masalah finansial yang terbatas. Sementara, sebagian orangtua lainnya -khususnya yang memiliki latar belakang finansial yang memadai- akan mencari kualitas sekolah yang lebih, seperti sekolah swasta berbasis agama, nasional plus, bahkan sekolah internasional. Namun menurut Fifi Suri, sebelum menentukan pilihan sekolah, orangtua sebaiknya memerhatikan karakteristik, kepribadian, bakat, kebutuhan, dan minat anak. Selain itu, ada beberapa hal-hal yang harus dijadikan pertimbangan atau pertanyaan ketika mengunjungi sekolah yang diminati. Seperti apakah kriteria yang orangtua harus cermati sebelum memilih sekolah untuk anak? Simak penjelasannya lebih lanjut dalam artikel Memilih Sekolah untuk Anak.

Sementara orangtua sibuk menyiapkan pendidikan yang terbaik untuk anak, tak jarang orangtua lupa bahwa merekalah guru pertama dan utama dalam kehidupan anak-anak. Hal tersebut biasanya akan diuji saat orangtua menemukan masalah pada anak. Dalam tulisan Mentor, Not Monster, TUMContributor Adhitya Mulya menjelaskan bahwa ketika orangtua menemukan masalah pada anak, orangtua yang bijak akan mengakui adanya masalah tersebut. Kemudian, mengajak anak untuk juga mengakui masalah itu, menunjukkan bahwa kita berada di sampingnya, siap memberikan dukungan untuk menyelesaikan masalah itu. Namun dalam upayanya membantu anak menyelesaikan masalah, tak jarang orangtua terjebak dalam kondisi membandingkan anak dengan orang lain yang membuat orangtua -yang seharusnya dapat lebih bijak melihat masalah anak selayaknya seorang mentor- menjadi monster yang anak harus hadapi di rumah. Bagaimana agar orangtua dapat menjadi mentor kehidupan yang dibutuhkan oleh anak, alih-alih menjadi monster kedua yang harus dihadapi di rumah, silakan baca dalam tulisan Mentor, Not Monster.

Nantikan selanjutnya tulisan-tulisan menarik dan informatif di The Urban Mama minggu depan, ya. Selamat berakhir pekan dan selamat berkumpul bersama keluarga tercinta, Urban Mama dan Papa!

0 Comments

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.