Upper Lip-Tie dan Oversupply Saat Menyusui Ghazi

Kehamilan saya bisa dibilang sangat menyenangkan, walaupun sempat dua kali harus bedrest karena flek di trimester pertama dan kontraksi dini saat minggu ke-25. Saya tetap berusaha menikmati masa kehamilan ini. Pada hari pertama cuti, tiba-tiba ketuban saya pecah pukul 10.00 dan air langsung mengalir deras. Saya langsung dibawa ke rumah sakit dan alhamdulillah proses melahirkan berlangsung cukup cepat dan lancar. Pukul 15.24 lahirlah pangeran kecil kami dengan suara tangis yang kencang. Rasanya sangat luar biasa dan saya tak henti-hentinya bersyukur kepada Allah SWT karena diberikan kemudahan dalam melahirkan dan dukungan dari suami serta orangtua.

Setelah Ghazi dinyatakan bugar, saya kemudian mendapatkan kesempatan untuk merasakan IMD (Inisiasi Menyusui Dini) yang berlangsung selama 1 jam 20 menit. Priceless, saat mata saya bertatapan pertama kali dengan mata bulat Ghazi. Saat IMD ini kolostrum sudah keluar. Selesai IMD kami berpisah selama tiga jam karena Ghazi harus diobservasi dulu di kamar bayi.

Ketika menyusui itu (tidak) mudah

Setelah tiga jam, Ghazi pun diantar ke kamar saya. Saatnya mempraktikkan ilmu menyusui yang sudah mengisi hari-hari saya selama empat tahun terakhir ini. Ternyata tidak perlu menunggu lama untuk merangsang bibir Ghazi agar membuka mulutnya lebar-lebar, ia sudah langsung melahap. Pada percobaan pertama, Ghazi berhasil latch on dengan baik. Sepanjang malam Ghazi tidur dengan saya. Hari pertama benar-benar indah.

Perjuangan menyusui dimulai pada hari kedua. Tiba-tiba timbul masalah pelekatan, padahal saya sudah memosisikan Ghazi sedemikian rupa. Teori AMUBIDAPI (areola masuk semua, mulut buka lebar, bibir bawah memble, dagu nempel payudara, pipi gembung) sudah dikerjakan Ghazi, tetapi mengapa saya merasakan nyeri pada puting susu. Makin lama rasa nyeri makin parah, padahal tidak ada yang salah dengan latch on Ghazi.

Pada hari ketiga, hal yang paling ditakuti ibu menyusui pun terjadi pada saya: puting berdarah. Payudara kiri sampai saya istirahatkan sejenak karena tidak kuat menahan sakitnya. Saya pun mengalami engorgement (payudara bengkak) pada hari keempat dan badan mulai meriang. Saya coba melakukan breast care (kompres hangat-massage+perah-kompres dingin) dan rasanya sakit. Sedih rasanya ketika ada seseorang yang mungkin tidak sengaja berkata, “Dok, konselor kok bisa lecet?”

Setelah kami boleh pulang, perjuangan menjadi makin menantang di rumah. Saya mengurus Ghazi sendirian dan merasa tidak terlalu telaten mengurus bayi baru lahir. Dalam hati saya berusaha meyakinkan diri, “Insya Allah saya bisa.” Sementara itu engorgement pun makin parah dan mulai muncul milk blister yang sangat sakit.

Akhirnya saya menemukan juga sumber masalahnya. Pelekatan Ghazi “kelihatannya” oke, tetapi sebenarnya tidak. Ghazi tidak bisa mempertahankan areola penuh di dalam mulutnya karena ada yang membatasi pergerakan mulutnya yaitu Upper Lip-Tie. Tadinya saya lega karena tongue-tie yang saya alami tidak menurun ke Ghazi tapi ternyata ia mengalami lip-tie yaitu masalah anatomis yang bisa menimbulkan masalah menyusu.

Upper lip-tie atau superior lingual frenulum adalah adanya jaringan lunak yang menghubungkan bagian dalam bibir atas dengan gusi di bagian atas, letaknya di tengah. Lip-tie juga seperti tongue-tie terbagi menjadi beberapa kategori. Lip-tie menjadi masalah ketika jaringannya tebal, pendek dan melekat sangat kuat ke gusi atas.

Adanya jaringan ini menyulitkan pergerakan bibir atas bayi untuk menjangkau areola, jadi bayi lebih sering “terlipat ke dalam” bibir atasnya. Mungkin urban mama bisa mencoba untuk memasukkan bibir atas ke dalam mulut dan kemudian buka mulut, sungguh tidak nyaman bukan untuk minum atau makan. Hal ini juga yang membuat bayi susah mempertahankan latch on yang baik, sehingga bibir bayi sering “terpeleset”. Itulah yang selama ini terjadi pada Ghazi.

Dari artikel Dr. Kotlow, seorang pediatric dentist, lip-tie dikategorikan menjadi empat tipe:

 

    • Kelas 1:  Frenum bibir atas minimal melekat pada bagian atas gusi. Kelas ini tidak menyebabkan gangguan menyusu.
    • Kelas 2:  Frenum melekat pada sebagian besar gusi.
    • Kelas 3:  Frenum melekat tepat di bagian depan papila (jaringan lunak di tepi gusi, tempat di mana gigi akan tumbuh.)
    • Kelas 4:  Frenum melekat pada papila dan memanjang hingga ke bagian dalam gusi. Ini adalah kelas terberat dan paling banyak menyebabkan gangguan pada bayi untuk mempertahankan perlekatan menyusu yang benar.


Masalah lip-tie di kemudian hari dapat menyebabkan gangguan formasi gigi seri (bisa menjadi renggang), lebih tepatnya masalah kosmetik.

Kondisi lip-tie pada Ghazi masuk kelas 4. Tindakan yang diambil adalah frenotomy (pemotongan jaringan frenum yang melekati gusi). Tindakannya cepat seperti insisi tongue-tie tapi proses adaptasi pada bayi bisa berbeda-beda waktunya. Menyikapi hal ini, jujur saya cukup stres ditambah lagi masalah latch on ini membuat Ghazi sering sulit mengosongkan payudara dengan sempurna. Hasilnya, saya mengalami oversupply ASI di mana alirannya sangat deras dan terkadang membuat Ghazi sampai tersedak atau terbatuk-batuk saat menyusu. Sedih sekali melihatnya.

Sebelum memutuskan apakah memang perlu tindakan frenotomy, saya melihat tanda kecukupan ASI berikut pada Ghazi:

    • Dalam usia dua minggu, berat badan Ghazi sudah naik 400 gram dan usia 1 bulan kenaikan berat badan Ghazi sebesar 1,3 kg.
    • Frekuensi buang air kecil lebih dari 6 kali sehari, urine jernih dan tidak pekat.
    • Frekuensi buang air besar 5-6 kali sehari, warna kuning mustard sampai golden yellow dengan ampas seperti biji cabai.
    • Lama-lama Ghazi lebih tenang dan terlihat kenyang setelah menyusu, tidak seperti saat usianya di minggu-minggu awal.

 
Setelah konsultasi ke teman yang juga dokter gigi dan berdiskusi dengan suami, saya memutuskan untuk tidak mengambil pilihan tindakan frenotomy untuk Ghazi. Saya usahakan dulu untuk memosisikan Ghazi ketika sedang menyusu. Untuk itu, beberapa kali saya harus selalu menyangga bagian kepala belakang Ghazi, ibu jari dan keempat jari saya lainnya ada di atas telinganya untuk mempertahankan posisi latch on.

Sebulan pertama saat mengalami engorgement, over-supply, dan milk blister cukup memusingkan saya. Saya rutin melakukan breast care untuk masalah payudara bengkak ini, lama-lama masalahnya bisa teratasi.

Kasus oversupply juga sempat membuat saya pusing. Foremilk saya sangat banyak sehingga Ghazi sering mengalami gassy stomach sampai BAB warna hijau. Ia sering rewel karena perutnya yang kembung. Bagaimana cara saya mengatasi kasus oversupply?

    • Saya biarkan Ghazi menyusu langsung pada payudara yang sama dalam 2-3 sesi, karena Ghazi menyusu cukup sering pada awalnya sekitar 1–1,5 jam sekali.
    • Saya pompa dulu sekitar 5 menit sebelum menyusui langsung. Dalam 5 menit saya bisa menghasilkan 50-60 cc foremilk.
    • Tidak menawarkan payudara yang lain apabila tiba-tiba Ghazi melepas nyusu dan tidur sebentar.

 
Setelah mencoba trik ini, alhamdulillah BAB Ghazi kembali berwarna kuning mustard, yang berarti hindmilknya cukup dan ia lebih tenang. Namun apakah saya sudah bisa bernapas lega untuk urusan menyusui Ghazi? Ternyata saya masih dihadapkan pada kasus alergi yang akan saya ceritakan pada artikel selanjutnya.

(gambar: pennilessparenting.com & http://www.kiddsteeth.com/articles.php) (featured image: time.com)

 

20 Comments

  1. avatar
    Nisak aulina February 22, 2017 3:33 pm

    Dok.... anak saya saat umur 1 bulan sudah di insisi tounge tie dan juga lip tie. namun beberapa hari ini saya baru sadar klo yang lip tie nya kembali... apa saya harus insisi ulang dok... efeknya apa ya...

    1. avatar

      As .



  2. avatar
    nrabiulmuis February 12, 2016 9:31 am

    dear dr.Sarah. saya mau nanya. anak saya tonguetie dan liptie. saat usia 1bulan sudah di frenotomy. alhamdulillah setelah itu saya kondisiny sdh lbh baik. tapi, skr radiv usia 1th. setelah giginy mulai tumbuh saya baru sadar kalau liptieny kembali lagi :(. kebetulan radiv ad di liptie tipe ke3. apa saya harus insisi kembali ya dok? terimakasih sebelumnya

    1. avatar

      As .



  3. avatar
    Anko January 9, 2016 12:41 pm

    Makasih banget dokter sarah, Alhamdulillah ini memberikan saya ilmu baru. Fatih kmrn ada tongue tie, itu jg saya bru sadar waktu 3 bln & langsung di insisi. Pasalnya, usia 2 bln bb nya naik dg bagus & badannya lumayan gemuk. Masuk 3 bln Fatih kurusan & sulit nenen sama saya. Tapi baru2 ini saya ada curiga sedikit klo klo ada lip tie.... Semoga saja tidak...
    Setelah baca artikel ini, saya merasa beruntung & tertolong sekali dalam memperhatikan Fatih yg skrg menginjak usia 6 bln.

    1. avatar

      As .



  4. avatar
    Tania1101 June 11, 2015 12:34 pm

    Aku jg br liat ni anakku ada lip tie. Tongue tie blm tau krn susah cekny. Sarannya bagaimana tidak dioperasi apakah masalah? Anak saya baru 1 minggu

    1. avatar

      As .



  5. avatar
    renibounty April 27, 2015 12:59 pm

    Infonya sangat bermanfaat skali...
    Kebetulan anak saya (br 1mgg usianya) jg ada lip tie dan stlh konsultasi dgn dr laktasi lip tie hrs di incisi...
    Boleh minta no telp, saya hanya ingin sharing lbh detail ttg lip tie...mengingat pengalaman sarah yg memutuskan utk tidak incisi ghazi...

    1. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.