Healthy Body Image

Saat sedang menonton televisi di rumah, saya dikejutkan dengan satu fakta yang terpampang di layar: 6 dari 10 anak perempuan berhenti melakukan aktivitas yang mereka sukai karena merasa tidak nyaman dengan penampilannya. Mereka merasa dirinya jelek, tidak berharga, dan tidak percaya diri. Semua itu membuat mereka tidak bisa 100 persen menjadi dirinya sendiri dan berkembang sesuai potensinya. Such a shame!

Seperti biasa saya langsung menyalahkan media dan industri kecantikan. Majalah-majalah yang menampilkan foto model berpenampilan sempurna (walaupun mungkin dengan bantuan airbrush), film-film dengan artis dan aktor super keren, plus iklan-iklan kosmetik yang menawarkan berbagai "kelebihan". Lebih putih! Lebih halus! Lebih langsing! Lebih mulus!

Dan ketika semua "kelebihan" itu kita dapatkan sesudah memakai produk tersebut, niscaya hidup kita jadi lebih indah, dengan karier yang lebih sukses dan berhasil mendapatkan pacar yang lebih keren!

Tapi, betulkah kita hanya bisa menyalahkan industri kecantikan dan media? Bukankah pendidikan dasar tetap menjadi tanggung jawab orang tua? Mungkin kita tidak bisa mengubah dunia, tapi sebagai orang tua, kita wajib mempersiapkan anak-anak kita untuk menghadapi semua ketidaksempurnaan di luar sana.

Betul, kan?

Nah pertanyaannya, sudahkah saya sebagai Mama untuk anak perempuan saya, mendidik Alyssa untuk percaya diri dan memiliki body image yang sehat?

Hmmm... Tiba-tiba saya tertunduk malu. Tanpa sadar, saya suka mengeluh tentang ketidaksempurnaan tubuh saya di depan Alyssa. Mungkin memang tidak secara langsung, tapi tetap saja... Misalnya, saat saya mematut di depan kaca lalu berkata pada suami (tanpa menyadari kalau Al ikut mendengarkan) "Ih, saya kok tambah gendut?" Atau di saat lain, saya dan ipar saya (sebagai sesama Mama) mengeluh tentang kulit muka yang sedang berjerawat, lagi-lagi Al ada di dekat kami dan walaupun dia terlihat cuek, tapi ternyata ia menyerap semua perbincangan kami. Karena itu tidak heran kalau suatu kali Alyssa pernah ikut-ikutan mematut diri di kaca sambil bertanya "Mama, do I look fat?"

Oh no.. What have I done to her???

Ternyata, tekanan untuk tampil sempurna sesuai "standar yang berlaku di masyarakat" juga banyak didapat dari lingkunganĀ  terdekat kita. Tidak hanya di alami oleh perempuan saja, tapi juga laki-laki. Intinya, tua, muda, pria, wanita, anak-anak atau nenek kakek, kaya miskin, bisa dibilang semua pernah mengalami krisis percaya diri semacam ini. Saya pernah melihat seorang ibu yang menghardik anaknya ketika mendapati si anak mengambil sepotong kue ekstra. "Hei, mau jadi segendut apa kamu, makan kue terus?" Si anak meletakkan kuenya kembali, sambil tertunduk sedih.

Belum lagi ledekan atau julukan dari kakak-adik atau teman sebaya ("si pesek", "si tembam", "raja jerawat", dll) , yang mungkin terdengar 'harmless' tapi tanpa disadari bisa menghancurkan rasa percaya diri.

Pertanyaan Alyssa apakah dia gendut, ditambah fakta yang saya baca dan tonton di televisi menyadarkan saya akan pentingnya seorang anak untuk memiliki kepercayaan diri dan body image yang sehat. Sekarang, saya selalu menekankan padanya kalau setiap orang itu unik, dan memiliki kelebihan dan kekurangannya masing masing. Sesering mungkin saya memujinya, saya bilang Alyssa cantik rupanya, cantik hatinya dan cantik perilakunya. Saya juga mengingatkannya selalu untuk tidak menilai seseorang dari "luar" apalagi mengata-ngatai "kejelekan" mereka.

Dan pastinya, sebagai ibu, saya berusaha menutupi segala yang membuat saya tidak percaya diri akan ketidaksempurnaan saya sendiri. So, no more complaining about my perut buncit (at least) in front of her!

Kalau Al bertanya, kenapa saya rajin lari, saya selalu jawab, "Because I want to be a healthy and strong Mom for you!"

Saya berharap, cara-cara yang saya lakukan cukup ampuh membangun kepercayaan diri dan body image yang sehat untuk putri saya. It goes without saying, sebagai seorang mama, saya sendiri juga harus percaya diri dan merasa nyaman dengan bentuk tubuh sendiri. Kalaupun saya ingin menurunkan berat, daripada hanya berkeluh kesah, lebih baik saya menjaga pola makan saya dan berolahraga! Hitung-hitung sekalian menularkan gaya hidup sehat pada keluarga saya.

Satu lagi yang wajib diingat adalah, menjaga saluran komunikasi tetap terbuka agar anak merasa nyaman mendikusikan semua pertanyaan atau keresahan tentang tubuh mereka (apalagi saat mereka mulai akil balik, di mana tubuh mereka banyak mengalami perubahan). Komunikasi juga sangat penting agar anak tidak takut untuk bercerita pada orang tua atau guru disaat mereka merasa tidak percaya diri. Ini akan membuka kesempatan bagi orang tua untuk mencari solusi dengan cara menghibur si anak, membangkitkan percaya diri mereka, membantu untuk "menutupi" kekurangan mereka dan fokus pada kelebihan yang dimiliki.

24 Comments

  1. avatar
    Herlia pratiwi June 17, 2013 1:59 am

    Setuju nice artikel ... Persiapan punya anak gadis nanti nya

    1. avatar

      As .



  2. avatar
    Bunda Bitha November 29, 2012 11:13 am

    Huaaa it's me banggeeeet dulu waktu kecil sering dibilangin paling jelek sendiri entah dr keluarga besar ato temen kakak dan adek krn kurus ceking item gak cantik hiks, jadi ga pede sempet ga mau pacaran dan ga mau merit *krn merasa jelek sedunia* tp mlh sekarang dpt anak cewek cantik hahaha :P

    Ga mau terulang walo anak aga pesek hehehe *turunan ayahnya* tp tetep cantik dooong tiap bangun tdr selalu disapa dgn HALLO CANTIIIK SDH BANGUUUN

    1. avatar

      As .



  3. avatar
    Intan November 27, 2012 3:23 pm

    Inspiring artikel, Thanks :) kalau orang tuanya merasa nyaman dengan dirinya, otomatis sang anakpun akan merasa nyaman dengan apa yang dimilikinya. So, be a confidence and positive parent.

    1. avatar

      As .



  4. avatar
    zata ligouw November 25, 2012 12:09 am

    makasih atas artikelnya ya.., jd kepikiran utk ngingetin anak2 gw lg bhw body image yg positif itu penting bgt.

    Gw inget kejadian beberapa bulan lalu saat temen2 anak prempuan gw (umur 8th) lg pada maen di rumah, salah satunya pake tank top. Tiba2 anak cewe yg lain nyolek si anak ber-tank top itu sambil ngomong "eh..kamu kok pake baju kaya' gitu?." Utk sesaat gw positive thinking, gw pikir dia akan negur krn mungkin menurut dia baju itu terlalu seksi utk anak seumuran mereka, tapi trus dia lanjutin kalimatnya dengan nada sinis, "kamu kan item, ngga pantes pake baju kaya gitu." Gw langsung istighfar..kaget jg kok ada temen anak gw yg ngomongnya sadis kaya di sinetron gitu?. Cepet2 gw tegor anak itu, dng baik2 tentunya, sambil nyelipin pesan bahwa apa pun warna kulitnya..mereka itu cantik dng cara yg berbeda2.

    1. avatar

      As .



  5. avatar
    thea rizkia November 23, 2012 2:46 pm

    inspiring sekali fan...

    kami pun dalam keluarga kecil, aku dan suami berusaha memberikan contoh pada cena dengan teladan. pengennya sih kita bisa jadi role model yang oke buat cena. dari awal membiasakan hidup sehat dengan olahraga dan makan yang berimbang. sering banget tuh aku diingetin suami untuk tidak berkeluh kesah tentang physical look. the most important is our health. yang penting hidup sehat. langsing anggap aja bonus yaaah.

    1. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.