Halo semua,
mau sharing..
kami menikah juli 2010, desember 2010 alhamdulillah istri saya hamil.
Istri saya periksa ke salah satu rumah sakit ibu dan anak terkenal di bandung dan juga dokter yang cukup punya nama di Bandung.
Waktu USG minggu ke 20 berat bayi kurang, untuk mengatasinya kami berinisiatif menambah makanan bergizi dan susu serta vitamin, alhamdulillah USG minggu ke 24 berat bayi sudah bertambah dan dalam kondisi normal (berat badan, gerakan bayi dan detak jantung bagus).
waktu itu hari sabtu kurang lebih minggu ke 27 istri saya merasakan gerakan bayi dalam kandungan berkurang (karena kami pasangan baru jadi waktu itu kami tidak terlalu mengkhawatirkannya.. hiks hiks.. #sangat menyesal).
dua hari ga ada gerakan, hari senin siang tanggal 31 mei 2011 kami pergi ke dokter (kebetulan istri saya diperiksa bukan oleh dokter yang biasa karena dia tidak ada jadwal praktek) dan setelah diperiksa dan USG, dokter memvonis bayi sudah meninggal (tak terbayangkan sedihnya waktu itu).
dokter menanyakan apakah bayi mau di keluarkan hari itu juga atau nunggu lain waktu, kami memutuskan waktu itu juga bayinya harus dikeluarkan (heran juga dokter nanya kayak gitu, ngapain juga bayi sudah meninggal harus didiamkan bisa" jadi bahaya buat ibunya #sedikit emosi).
malam itu istri saya menjalani rawat inap untuk berusaha mengeluarkan bayinya secara normal dan ditangani oleh dokter yang biasa menangani istri saya. setelah dilakukan induksi semalaman, istri saya mulai merasakan kontraksi dan alhamdulillah bayinya bisa keluar dengan persalinan normal (menurut dokter untuk kasus seperti ini biasanya lama waktu bayi keluar antara 2-3 hari, alhamdulillah bayi saya bisa keluar dalam waktu 1 hari #alhamdulillah #maha suci Allah).
Penasaran dengan penyebabnya kami menanyakan ke dokter apa ada yang bisa dilakukan untuk mengetahui penyebab bayinya meninggal dalam kandungan misalnya cek darah atau lainnya, namun menurut dokter untuk kasus seperti ini tidak ada yang bisa dilakukan dan tidak ada pemeriksaan lab yang bisa dilakukan. (karena kebanyakan pasien apa mungkin dokter jadi kurang konsen ya?)
dengan kejadian itu istri saya mengalami pukulan hebat sehingga selama beberapa waktu sempat mengalami down, sering menangis mengingat bayi kami dan ingin segera mendapatkan penggantnya. tetapi alhamdulillah dengan dorongan keluarga dan teman, istri saya dapat kembali pulih.
singkat cerita bulan desember 2011, istri saya terlambat haid. kami testpack alhamdulillah hasilnya positif. kemudian kami periksa ke dokter tarmin soegandhi (kami ganti dokter karena trauma kejadian sebelumnya) istri saya positif hamil kurang lebih 7-8 minggu (istri saya sempat salah hitung tanggal terakhir mens), namun ada kelainan bayinya kecil dan seperti ada gumpalan darah di dinding rahim. waktu itu dokter hanya memberi obat penguat rahim dan minta kita datang 2 minggu lagi. setelah 2 minggu kita periksa lagi, ternyata terdapat 2 kantung rahim, tetapi yang satu kosong tidak terdapat janin, namun waktu itu kami sedikit khawatir karena tidak ada detak jantung pada bayinya. seperti biasa dokter kasih obat penguat dan minta kita datang 1 minggu lagi. 1 minggu berlalu kita periksa kembali dan alhadulillah detak jantung bayi sudah terdeteksi namun perkembangan kurang .
dokter menyarankan test darah D-Dimer, dan ternyata hasilnya 0,3 (standar maksimal 0,3). dokter menyarankan mengonkonsumsi ascardia 80 mg untuk mengatasi kekentalan darah tersebut.
1 minggu kemudian istri saya cek darah lagi namun ternyata hasil D-Dimernya malah meningkat jadi 0,5 , karena itu dokter memutuskan untuk memberikan suntikan lovenox 0,4 ml setiap hari di tambah dengan ascardia.
pagi tadi istri saya di cek darah lagi, mudah2an hasil D-Dimernya menurun.
minta doanya ya para ibu dan calon ibu..
mohon maaf jika ceritanya terlalu panjang dan mungkin agak sedikit tidak di mengerti.
terima kasih.