Pengalaman gue, di kantor gue boleh2 aja cuti mepet2... Atasan langsung gue yang menyarankan begitu. Jadi kita udah bikin form cuti yang udah ditandatangani, tapi tanggalnya masih dikosongin. Pas tiba-tiba cuti, jadi atasan gue yang akan ngisi tanggalnya... Selama cuti 3 bulan itu kita tetap dibayar, tapi cuma gaji pokoknya aja, tanpa tunjangan2 spt transport dan kehadiran.
Pas hamil 5 bulan, gue juga sempat diwawancara untuk kerja di kedutaan, ternyata mereka gak masalah untuk terima karyawan dalam keadaan hamil, yang penting menurut mereka, asalkan kita memang berminat untuk tetap bekerja setelah cuti hamil. Cuti hamil yang didapat 4 bulan, tapi akhirnya gue gak jadi kerja di sana. Di kedutaan ini juga diterapkan cuti jam2an, dan menurut gue cukup fair, karena kalau kita ada perlu sebentar, gak perlu ijin2, merasa gak enak, karena toh dipotong cuti.
Sorry kalo yang ini OOT, tapi gue pengen cerita bahwa ada kog perusahaan di Indonesia yang ngasih unpaid leave, walau yang ini kasusnya bukan karena melahirkan. Untuk unpaid leave, gue pernah ngambil dua kali di kantor gue yang lama, waktu itu karena gue dapat kesempatan untuk ikut short course (bukan urusan kantor, karena sambil kerja gue juga ikutan teacher training program di tempat lain). Yang pertama cuma sebulan dan tetap dibayar, padahal gue baru masuk Februari, trus cutinya Juli-Agustus. Kalo dipikir2, gila juga sih, gue anak baru, sebulan setelah kerja menanyakan kemungkinan gue untuk unpaid leave. Beruntung waktu itu atasan2 gue termasuk yang cukup terbuka. Yang kedua selama enam bulan, ini bener2 gak dibayar, tapi bonus2 tetap dapat, THR juga dapat, malah diutangin iuran jamsostek juga biar keanggotaannya gak putus... posisi tetap aman sampai gue balik.
"Some things you can give and give and not lose any. Things like happiness or love or my colours."
–Elmer and the Rainbow